
sekitar pada tahun 80 an ayah ba-umo atau berladang diwilayah Belengo desa Langling Merangin, pada waktu wilayah Belingo masih banyak hutan belantara kayu-kayunya besar-besar seperti kayu meratih, kolim, tembesu dan lain sebagainya, dari umo mau keluar lebih kurang 7 km, jika hujan lebat tentu tidak bisa ditempuh pake motor apa lagi mobil.
Saat itu ayah keluar untuk membeli ransum atau belanja kebutuhan di umo, pas mau masuk lagi keumo hujan sangat lebat, ayah berjalan kaki sejauh 7 km dibawah deras hujan berpayung daun pisang sambil memikul ransum yang dibeli, jalan yang sangat licin kiri kanan semak belukar dipertengahan perjalanan ayah melihat datuk panggilan akrab sang raja hutan alias harimau berjalan ditengah jalan lebih kurang 50 meter di depan ayah, tentu ayah berhenti sejenak mengambil langkah yang akan ditempuh tidak ada pilihan jalan alternnatif hanya dua pilihan maju trus atau balik kebelakang disaat berhenti tertegun ayah mengeluarkan isyarat dengan cara batuk agar datuk tau dibelakangnya ada manusia, tentu ayah berbacoan ayat ayat Alqur’an memohon agar datuk tidak mengganggu kemudian ayah menegur sang datuk ” Datuk ….!! numpang lewat sayo mau balik ke umo jangan ganggu sayo datuk !! Sang datuk melihat kebelakang dan memandang ayah lebih kurang dua minit kemudian datuk mengaum dengan suara yang tidak begitu kencang seakan memberi isarat ke ayah “lewatlah” kemudian datuk meminggir dirinya masuk kesemak dengan penuh tawakkal ayah melanjutkan perjalananan di saat tiba di mana posisi datuk berhenti bulu kuduk ayah naik pasrah kepada yang maha kuasa sang datuk rupanya hanya meminggirkan dirinya sambil duduk di dalam semak yang tidak begitu jauh dari jalan tentu ayah melihat jelas tubuh datuk yang bertubuh besar itu, yang menarik disaat ayah memnadang sang datuk, datuk menunduk seakan memberi isyarat “truslah lewat sayo dak mengganggumu”
ayah trus berjalan sambil berbacoan semoga datuk tidak mengganggu setelah melewati 10 m dari datuk, datuk kembali keluar ke jalan meneruskan perjalananya di belakang ayah.
Hikmah dari peristiwa tersebut ternyata harimau binatang yang punya naluri seperti manusia selama ia tidak terganggu, tidak menggangu kita, bahkan bisa dijadikan banser untuk keamanan ladang kita.