Korban Virus Corona

Sejak awal 2020, dunia digemparkan dengan sebuah virus yang menyerang pernapasan manusia dan dapat menyebabkan kematian.

Virus yang dinamakan SARS-CoV-2 tersebut awalnya berasal dari Provinsi Wuhan, China, dengan cepat menyebar ke berbagai belahan dunia.

Hingga Selasa (17/3/2020), jumlah kasus terinfeksi mencapai 183.202 orang di 162 negara, dengan angka kematian 7.177 orang dan total pasien sembuh sebanyak 79.905 orang.

Di Indonesia sendiri, virus tersebut baru ditemukan pada awal Maret, hingga saat ini jumlah pasien positif terjangkit virus corona tercatat 172 kasus.

Penelitian di China Golongan Darah O Resisten Terinfeksi Virus Corona

Dilansir dari South China morning Post, peneliti medis di China mengambil pola golongan darah dari 2.000 pasien yang terinfeksi virus di Kota Wuhan, China dan Shenzhen dan membandingkannya dengan populasi setempat.

Peneliti menemukan, pasien bergolongan darah A menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi dan mereka cenderung mengalami gejala yang lebih parah.

Sementara itu, para peneliti juga mengungkapkan, studi ini adalah langkah awal dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Golongan Darah A

“Orang-orang dari golongan darah A mungkin secara khusus perlu memperkuat perlindungan pribadi untuk mengurangi kemungkinan terinfeksi virus corona,” tulis para peneliti yang dipimpin oleh Wang Xinghuan dengan Pusat Pengobatan Berbasis Bukti dan Terjemahan di Rumah Sakit Zhongnan, Universitas Wuhan.

Meskipun demikian, peneliti mendesak pemerintah dan fasilitas medis untuk mempertimbangkan perbedaan golongan darah tersebut ketika merencanakan langkah-langkah mitigasi atau merawat pasien dengan Covid-19.

“Pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 dengan golongan darah A mungkin perlu menerima pengawasan yang ketat dan perawatan yang agresif,” ujar Wang.

Sumber : kompas

Virus Corona: Khairul Amani Untuk Sementara Peserta Diklat PKP Pulangkan.

Khairul Amani Kepala Balai Diklat BDK Padang akan memulangkan 30 peserta Pelatihan Kemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan I Tahun 2020. Jadwal pemulangan peserta ini dijadwalkan sabtu ini. Hal ini disampaikannya pada kegiatan apel pagi dihadapan seluruh peserta Diklat Selasa, (17/3/2020) di halaman BDK Padang tadi pagi. Beliau menyampaikan pemulangan peserta Diklat PKP dikarenakan kekhawatiran covid 19 Corona yang menjadi kecemasan bagi banyak masyarakat kita.

” kita mengambil langkah memulangkan peserta karena kekhawatiran virus Corona covid 19 Samapi waktu tidak ditentukan” ungkapnya

Lanjutnya Peserta yang datang ke balai Diklat BDK Padang ini berasal dari 4 provinsi Padang, Jambi, Riau dan kepulauan Riau yang mana kita ketahui bersama banyak jalur transportasi peserta menuju balai, ada udara, darat dan laut. Tentu sudah banyak orang yang dijumpai selama perjalanan menuju Balai Diklat ini.

Lanjutnya langkah yang kita ambil ini sesuai dengan himbauan presiden Jokowi yang menjadi turunan ke bawah agar segera mengambil langkah untuk penyegahan cavid 19 ini. Wabah corona sangat berbahaya bagi kehidupan manusia saat ini.

Sesuai dengan arahan Presiden dan menteri agama dalam Setiap saat ini dihimbau untuk tidak melaksanakan kegiatan banyak orang. Pemulangan peserta Diklat ke tempat masing tetap menjalan tugas persiapan lanjutan Diklat pada setuasi memungkinkan untuk dilaksanakan dalam bebarapa Minggu ke depan.

KHUTBAH JUM’AT UMAT ISLAM MENYIKAPI VIRUS CORONA Oleh : Abdul Rahman, M.Pd.I ( Humas UIN STS Jambi)

KHUTBAH JUM’AT
UMAT ISLAM MENYIKAPI VIRUS CORONA
Oleh : Abdul Rahman, M.Pd.I
( Humas UIN STS Jambi)اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ : وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا . إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَKAUM MUSLIMIN JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH.
Di berbagai media saat ini, Keresahan dan kekhawatiran yang ditimbulkan oleh virus Corona benar-benar ril (nyata) dan semakin menjadi-jadi. Hanya saja semua fokus pada apa dan bagaimana menghadapi penyebaran virus tersebut.
Menyikapi hal tersebut apa yang harus kita lakukan sebagai umat yang beriman?….Menjawab persoalan ini mari kita perhatikan pesan Nabi kita Muhammad SAW;
Apa pesan Nabi kita :الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ “Tha’un (penyakit menular/wabah) adalah suatu peringatan dari Allah Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya. (HR.Muslim)Dari pesan Nabi ini ada dua hal yang kita ambil; Pertama; Kalau terdengar berita di suatu tempat/negeri terkena wabah penyakit, maka jangan pergi kesana. Kedua; Kalau di tempat tinggal kita terkena wabah, maka jangan keluar.Dua pesan ini yang harus kita lakukan, keduanya sudah terkandung tiga disiplin ilmu. ilmu Tauhid, ilmu Fiqih dan ilmu Tasawuf.(Secara aqidah lari dari wabah bukan lari dari takdir Allah, secara Fiqih wajib hukumnya menta’ati perintah Allah dan Rasulnya untuk tidak masuk ke tempat penyakit yang sedang mewabah, secara Akhlak Tasawuf meskipun dalam keadaan terkena wabah, kita harus beretika tidak boleh menularkannya kepada orang lain (harus mengisolasi diri)..itulah dalamnya dan indahnya pesan Nabi Kita.
Lalu bagaimana praktek pesan Nabi tersebut di masa sahabat?
Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab hendak berkunjung ke wilayah Syam (kini Suriah) yang baru saja jatuh ke tangan umat Islam. Namun ketika sang khalifah dan rombongan tiba di daerah Syargh, ada kabar kalau masyarakat Syam tengah menderita penyakit kolera. Mendengar informasi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab menggelar musyawarah.
Atas masukan dari para senior Quraisy Khalifah Umar mengumumkan untuk membatalkan agenda kunjungannya ke Syam. Ia dan rombongannya kembali ke Madinah.KAUM MUSLIMIN YANG DIRAHMATI ALLAH.
Dalam konteks ini sebagai umat yang beriman sebaiknya kita tidak perlu mencari kambing hitam dan saling menyalahkan, koreksi atas tindakan pelaku penyimpangan dari sunnatullah yes, tapi alangkah bijaknya seandainya kita juga bisa mengambil ‘itibar atau ‘ibrah (pelajaran-pelajaran) dari kasus ini. Karena sejatinya, bagi orang-orang beriman, tak satu peristiwa yang terjadi dalam hidup ini kecuali memiliki hikmah-hikmah sebagaimana firman Allah;
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran:191)
Salah satu hikmah (pelajaran) penting dari kasus Corona ini adalah bahwa kasus ini mengingatkan sekaligus menyingkap beberapa fakta tentang manusia itu sendiri. Berikut beberapa fakta tentang manusia yang terungkap oleh kasus Corona:1) Manusia itu, siapapun dan bagaimanapun dunianya, sangat terbatas dalam segala hal.
Corona justru barangkali berwujud lemah. Tapi manusia yang kerap merasa hebat nampak tidak mampu menghadapinya. China dan Amerika saat ini barangkali dua negara yang memiliki kekuatan terbesar dunia, ternyata juga ketar-ketir. Al-Qur’an mengingatkan itu: “dan adalah manusia itu lemah (terbatas)”.2) Ilmu dan pengetahuan manusia tentang hidup dan segala yang terkait dengan hidup sangat terbatas dan sedikit.
Kalau sekiranya manusia hebat dalam keilmuan, tentu sebelum hal ini terjadi sudah dipersiapkan perangkat untuk menangkalnya. Buktinya setelah sekian nyawa telah melayang, obatnya juga belum ditemukan. Al-Qur’an mengingatkan: “Dan tidaklah kamu diberikan ilmu kecuali sedikit”.3) Manusia itu memiliki tabiat yang cenderung ‘panik’.
Panik adalah sebuah sikap yang karena kekhawatiran berlebihan bereaksi tanpa pertimbangan sehat. Reaksi tanpa pertimbangan ini membawa kepada ragam akibat yang tidak sehat, bahkan destruktif. Panik inilah yang menjadikan banyak manusia yang bereaksi di luar batas. Memborong barang-barang kebutuhan dari pertokohan sehingga ada pihak lain yang dirugikan. Al-Qur’an mengingatkan: “Dan adalah manusia itu ‘ajuula (tergesa-tergesa)”.4) Manusia itu sangat rapuh dan labil dalam segala hal.
Dengan meluasnya berita tentang Corona di media massa, bahkan siang malam tiada henti, menyebabkan banyak orang yang kemudian mengalami goncangan jiwa. Rumah-rumah sakit membludak, bukan karena Corona. Tapi lebih karena ketakutan berlebihan. Al-Qur’an menyebutkan dua penyakit berbahaya manusia: “ketakutan dan kesedihan (khauf wa hazan).”5) Manusia itu memiliki tendensi egoistik yang tinggi.
Tendensi ini kemudian melahirkan berbagai manipulasi dalam hidup. Hal ini terlihat betapa sebagian menggunakan kesempatan “musibah” ini untuk meraup keuntungan pribadi dengan memanipulasi harga barang-barang keperluan dasar untuk menghadapi Corona. Masker misalnya tiba-tiba habis di pasaran dan hanya ditemukan dengan harga yang ratusan kali lipat. Al-Qur’an mengingatkan: “Dan kamu mencintai harta dengan cinta yang berlebihan”.6) Manusia itu perlu sadar zaman.
Dunia kita adalah dunia global yang ditandai oleh apa yang disebut ketergantungan. Corona awalnya terjadi di China. Kini hampir semua bagian dunia ikut merasakan akibatnya. Bahkan Amerika tersadarkan kebutuhan obat-obatannya terancam krisis Karena selama ini 80% diproduksi oleh China. Al-Qur’an menyebutkan: “Sungguh Kami (Tuhan) telah jadikan kamu dari seorang laki dan seorang wanita. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal”.KAUM MUSLIMIN YANG BERBAHAGIA
Semoga Corona tidak saja hadir membawa seribu satu kekhawatiran dan ketakutan. Tapi juga hadir untuk mengingatkan manusia dalam banyak hal. Semoga ujian Corona ini menyadarkan manusia untuk belajar rendah hati, bahkan merendahkan diri di hadapan yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.
Ingatlah, apapun yang kita hadapi saat ini, semua akan berlalu. Jadilah orang yang tetap sejuk di tempat panas. Tetap manis di tempat yang begitu pahit. Tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar. Tetap tenang di tengah badai yang paling hebat. Apabila kita ridho pada sesuatu yang mengecewakan hati, Maka percayalah Allah akan menggantikan kekecewaan itu dengan sesuatu yang tak disangka. Hadiah tak semestinya berbungkus dengan bahagia. Kadang ia berbungkus dengan ujian, tetapi di dalamnya ada hikmah yang luar biasa.بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhutbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ أَيـُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ عَلَى الدِّيْنِ الْقَوِيْمِ. . وَقَالَ تَعاَلَى : اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ . رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Dokter Vs Ulama menyingkapi Covid-19

Covid-19 telah ada di depan mata kita. Cara kita dalam menyikapi penyakit tersebut akan menentukan kemampuan kita mencegah penyebarannya atau kecepatan penanganannya.

Masing-masing telah memiliki keahlian sesuai dengan kompetensi yang telah dibangun. Kita kawal upaya pengambil kebijakan membuat langkah-langkah pencegahan dan penanganannya.

Kita patuhi saran dari ahli kesehatan untuk pola hidup sehat yang mengurangi risiko kita terpapar virus tersebut.

Para ulama, jika pengetahuannya terbatas pada bidang agama, sebaiknya tidak keluar dari ranah kompetensinya, yaitu dengan mengajak umat untuk menjadikan peristiwa saat ini sebagai momen untuk melakukan muhasabah, meningkatkan keimanan kita kepada Allah, memperbanyak doa, atau hal-hal lain yang terkait keagamaan
Para ahli dalam bidang kesehatan menjadi rujukan utama untuk mengetahui perkembangan penyakit tersebut. Namun, pihak lain pun tidak ketinggalan membahasnya sesuai dengan perspektif keahlian yang dimilikinya.

Termasuk di antaranya kalangan ulama. Ketika wabah tersebut baru tersebar di China, sempat ramai di perbincangkan masyarakat terkait pendapat seorang dai yang mengatakan bahwa Covid-19 merupakan tentara Allah yang dikirimkan ke China karena menindas Muslim Uighur.

Kontroversi pun merebak terutama di media sosial. Menjadi pertanyaan besar ketika virus itu pun tersebar ke komunitas Islam dan akhirnya menyebabkan terhentinya aktivitas umrah, shalat Jumat, dan aktivitas ibadah umat Islam lainnya yang melibatkan massa dalam jumlah besar.
TRENDING NOW: Melihat Corona dari Perspektif Aqidah dan FiqihKhutbah Jumat: Saat Hati Nabi Dibedah Malaikat Jelang Isra’ Mi’raj RISALAH REDAKSI Antara Corona, Ulama, dan Sains Ahad 15 Maret 2020 16:00 WIB Bagikan: Mesti ada batas-batas kapasitas keilmuan yang mesti disadari oleh masing-masing ahli. World Health Organization (WHO) menetapkan status pandemi global Covid-19 setelah virus berbahaya ini menyebar ke sebagian besar wilayah dunia. Jumlah yang tertular dan korban meninggal terus bertambah sedangkan titik terang pengobatannya yang efektif belum ditemukan. Pengumpulan massa dalam jumlah besar telah dihentikan untuk menghindari proses penularan seperti sekolah, kampus, tempat hiburan, konferensi, dan termasuk di antaranya aktivitas ibadah seperti shalat Jumat. Iran dan Malaysia telah menghentikan jumatan di masjid. Sebelumnya, Arab Saudi telah menghentikan umrah di Masjidil Haram. Sekolah di DKI Jakarta, Jabar, dan Jateng telah diliburkan. Semuanya ditujukan untuk mencegah penularan. Para ahli dalam bidang kesehatan menjadi rujukan utama untuk mengetahui perkembangan penyakit tersebut. Namun, pihak lain pun tidak ketinggalan membahasnya sesuai dengan perspektif keahlian yang dimilikinya. Termasuk di antaranya kalangan ulama. Ketika wabah tersebut baru tersebar di China, sempat ramai di perbincangkan masyarakat terkait pendapat seorang dai yang mengatakan bahwa Covid-19 merupakan tentara Allah yang dikirimkan ke China karena menindas Muslim Uighur. Kontroversi pun merebak terutama di media sosial. Menjadi pertanyaan besar ketika virus itu pun tersebar ke komunitas Islam dan akhirnya menyebabkan terhentinya aktivitas umrah, shalat Jumat, dan aktivitas ibadah umat Islam lainnya yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Pandangan menghakimi pihak lain seperti itu sesungguhnya cerminan pola pikir dari sebagian umat Islam. Dalam kasus-kasus sebelumnya, terdapat dai yang menuduh daerah yang tertimpa bencana karena terkena laknat Allah sebagaimana terjadi pada bencana gempa atau tsunami yang terjadi di Lombok, Palu, Banten dan lainnya. Ayat Al-Qur’an dan hadits tertentu yang terkait dengan bencana dikutip sebagai pembenar pendapatnya untuk menghakimi orang lain sedang tertimpa musibah. Mereka tidak berpikir bagaimana jika terdapat keluarga atau bahkan dirinya sendiri yang terkena bencana tersebut. Ketika bencana juga menimpa umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana yang terjadi dalam kasus Covid-19 ini, akhirnya orang-orang yang suka menghakimi tersebut terdiam. Kasus ini seharusnya menjadi pelajaran untuk tidak dengan gampang menghakimi orang lain, apalagi dengan menggunakan ayat atau hadits yang ketika disampaikan oleh ulama yang dianggap kompeten dalam bidang agama kepada orang awam sebagai sebuah kebenaran yang tak terbantahkan. Pada masa lalu, para ulama menjadi tempat bertanya atas semua persoalan. Bukan hanya persoalan agama, pendapat dan nasihatnya dalam bidang-bidang lainnya pun diikuti oleh jamaahnya. Namun, seiring dengan berkembangnya pengetahuan, maka muncul spesialisasi atau bahkan subspesialisasi pengetahuan. Para spesialis tersebut menjadi orang yang paling kompeten terhadap sebuah persoalan. Akhirnya, peran dan makna ulama menyempit sebagai orang yang ahli dalam bidang agama. Karena itu mereka harus lebih hati-hati dalam mengomentari sebuah hal yang di luar kompetensinya. Jika terjadi kesalahan atau dibantah oleh mereka yang benar-benar ahli dalam bidang tersebut kredibilitasnya akan mengalami penurunan di mata umat. Pilihan bagi ulama adalah fokus pada bidang pengetahuan agama atau ikut mempelajari bidang lain yang nantinya dapat dijadikan pengetahuan membimbing umat. Di sejumlah perguruan tinggi Islam, dikembangkan kurikulum yang mengintegrasikan pengetahuan agama dan bidang keahlian tertentu seperti kedokteran, fisika, dan lainnya. Dengan demikian, mereka mampu dan otoritatif untuk membicarakan dua bidang yang dipelajarinya tersebut. Hal ini akan mengurangi kesenjangan penafsiran di antara dua bidang yang semakin lama semakin terspesialisasi. Jika mereka mempelajari ilmu agama dan kedokteran atau fisika, maka mereka akan menjadi ulama yang kompeten berbicara terkait ilmu kesehatan atau fisika; atau sebaliknya, mereka akan menjadi dokter atau fisikawan yang mampu menjelaskan fenomenanya dari perspektif agama. Teologi yang diyakini oleh para dai berpengaruh terhadap apa yang disampaikannya. Pandangan yang menyerah saja kepada “takdir Allah” (jabariyah), sehingga tak ada tindakan antisipatif terhadap Covid-19, dapat membahayakan orang lain. Sikap tersebut menyebabkan mereka mengabaikan aturan kesehatan sehingga berpotensi tertular dan menularkannya kepada orang lain. Alam berjalan sesuai dengan hukum alam atau sunnatullah yang dapat diuji melalui proses sebab akibat. Ketika kita tahu bahwa sebuah virus menyebar melalui interaksi antara penderita dan orang di sekitarnya, maka mencegah terjadinya kerumunan merupakan sebuah tindakan pencegahan yang harus dilakukan. Keyakinan tokoh agama bahwa yang penting yakin saja kepada Allah untuk membenarkan dirinya menggelar acara yang dihadiri oleh banyak orang merupakan bentuk keyakinan jabariyah (fatalis). Ini dapat membahayakan banyak orang. Ketika hal buruk terjadi, dengan cepat mereka mengatakan bahwa situasi itu terjadi dikarenakan takdir. Padahal hal tersebut dikarenakan tindakan yang gegabah. Kegampangan menggunakan perspektif takdir menyebabkan kita tidak belajar atas kejadian buruk yang dialami karena takdir merupakan kehendak Allah yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Dengan demikian, tak ada proses evaluasi yang perlu dilakukan, dan akhirnya tak ada perbaikan. Akhirnya, kesalahan yang sama mungkin saja terjadi di masa depan. Usaha dalam bentuk doa merupakan bagian dari upaya kita sebagai orang yang beriman. Namun, Allah sendiri tidak memberi kepastian kapan doa akan dikabulkan. Apakah seketika atau jangka waktu yang kita sendiri tidak tahu. Sains, yang didasarkan pada empirisme mampu melakukan pengujian atas proses sebab akibat. Misalnya, sebuah virus dapat menyebar dengan cara tertentu, seperti karena interaksi dengan orang lain. Vaksin dengan formulasi tertentu dapat menyembuhkan sebuah virus tertentu. Hal-hal seperti itu merupakan bagian dari sunnatullah dalam sebuah kehidupan normal, sebagaimana api akan membakar suatu benda. Kisah-kisah tentang keistimewaan yang dimiliki oleh orang tertentu yang keluar dari hukum sunnatullah seperti Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api, tidak dapat digunakan sebagai ukuran bagi publik.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/117846/antara-corona–ulama–dan-sains

Kultum Subuh: Tiga Sarat Menuju Sukses

Bertemapat di Musholla BDK Padang senin,16 Maret 2020 pengajian rutin subuh selalu di laksanakan. Rahman sebagai pengisi kultum mengajak semua jamaah menjalankan kehidupan menuju kesuksesan dengan tiga syarat :Pertama dalam menjalankan hidup dan kehidupan kita wajib bermujahadah yakni bersungguh-sungguh dalam meraih sesuatu yang direncana dan dicita-citakan dengan tetap menjalankan apa yang yang menjadi ridho Allah.Lanjutnya banyak orang diluar sana mendapat sesuatu yang inhinkan meskipun hasilnya baik menurut pandangan dan penglihatan namun jalannya tidak dalam ridho Allah tetaplah nilai dari usaha tersebut diharamkan oleh Allah, misalnya seseorang ingin mendapat jabatan yang tinggi namun prosesnya bukan jalan Allah maka, suatu saat nanti akan menjadi petaka dalam kehidupan karena mungkin ada kezholiman dalam pelaksanaannya.Kedua Husni Zhon berbaik sangka, yakni berbaik sangka kepada Allah atas ketetapan Allah yang diberikan kepada kita, barang kali usaha yang kita lakukan sudah maksimal menurut kita, kita berhak mendapatkannya namun sebaliknya, maka kita wajib berhusnul Zhon baik sangka kepada Allah, mungkin itu Allah menguji kita atau apa yang dalam keinginan yang kita raih Allah akan memberi lebih dari itu tapi bukan pada saat itu. Jika kita sudah berhusnul Zhon kepada Allah maka kesabaran tentu akan terpatri pada diri kita. Yakinlah bahwa Allah maha tau apa yang kita inginkanKetiga kunci meraih kesuksesan kita wajib amanah. Jujur dalam semua perkara yang kita lakukan, tumbuh rasa percaya orang dengan kita atas perilaku dan sikap kita maka insAllah kehidupan akan dilapangkan oleh Allah. Kejujuran merupakan suatu yang amat penting dalam menjalankan kehidupan ini apapun status sosial kita, jika amanah telah kita jalankan pasti Allah akan menjaga kita. Wallahu’alam

Ustaz Koni :Memahami Ibadah itu penting

http://

Subuh Jum’at 12 Maret 2020 BDK padang Sumatera barat terus selama istiqomah dalam melakaanakan kultum ba’da subuh. Ustasd Koni peserta PKP dalam tausiyah mengatakan ibadah merupakan kewajiban umat manusia terhadap Allah dan Tuhannya.

Mengapa manusia itu beribadah karena manusia menyadari dan memamahi dirinya sesungguhnya milik Allah.

Ibadah yang dilakukan oleh manusia makhdah wa goiru makhdah. Ada ibadah wajib secara langsung ada ibadah wajib tapi dalam kotek sosial seperti sholat dan zakat misalnya.

Kedua ibadah ini saling melengkapi artinya jika seseorang hanya ibadah makhdah saja maka perjalannya akan pincang karena ibadah sosial lain yang wajib ia lakukan.

Ia mengajak jamaah untuk giat melaksanakan ibadah karena suatu saat jika tuhan berkehendak InsyaAllah kita sudah siap.

Burhani : Membangun Tim Efektif untuk memenuhi Kebutuhan Konsumen

Hebat….semakin siang diskusi semakin seru terbukti kelompok III menyajikan Materi diskusi Membangun Tim Efektif untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Pak burhani penyaji kelompok III dalam paparannya menyampaikan tim itu harus memahami aouput yang dihasilkan.

Lanjutnya SDM sebagai tolok ukur keberhasilan yang diharap dari VISI dan Misi yang telah dibuat.

Calon Kepala Kemenag Merangin Jambi pada masa mendatang mengajak semua peserta diskusi untuk lebih pokus dalam bekerja sesuai tugas yang diberikan. Yang teramat penting bangun suasana yang nyaman dan mengasikkan bagi organisasi yang dipimpin.

Widyasauaro Drs. Eledison,M.Pd yang mengasuh materi ini sangat mengapresiasi semua kelompok diskusi dalam menyajikan topik yang diberikan.

Mas Eko : Kekompakan Modal Dasar Kesuksesan

Wah….. Mantap materi diskusi yang sangat menarik pagi calon pengawas para eselon IV peserta PKP BDK Padang. Kamis (12/3/2020) pagi ini

Mas Eko mewakili kelompok II dalam diskusi dengan tema ” Kekompakan Modal Dasar Keseluksesan” ilustrasi ini di bawa dalam penyelesaian proyek besar perusahaan pembangkit listri untuk menyelesaikan proyek miliaran ini.

Dalam kesuksesan menyelesaikan sesuatu harus bekerja sama sehingga gerakan dan irama seimbang. Sehingga sebesar apapun pekerjaan tersebut bisa di selesaikan dengan baik bahkan tidak bermasalah.

Materi yang yan diasuh oleh Bapak Edison Widya Suara BDK Padang mengaharap materi ini dapat dipahami dan dimengerti oleh semua peserta sehingga dapat di aktualisasi ditempat masing-masing. Harapnya.