Suasana bahagia dan semangat terus mengalir sepanjang hari dari peserta Pelatihan Kepemipinan Pengawas Angkatan I Kementerian Agama di Balai Diklat Keagamaan Padang.Terbukti pemaparan materi diskusi oleh kelompok III oleh Ibnu Hajar salah satu peserta PKP.Peria yang berwibawa seperti Kepala Kemenag ini bersemangat dalam menyampai topik diskusi dengan tema Kekompakan Tim dalam organisasi.
Dalam paparan yang penuh semangat dan santai ini membuat peserta lain kagum terhadapnya. Dalam paparannya ia menyampaikan sebuah tim yang kompak akan dapat meraih kemenangan sehingga target yang dicapai mengahasil nilai yang baik.Ikut dalam diskusi ini para eselon IV dilingkungan Kemenag dari 4 provinsi sumatera yakni Padang. Jambi. Riau dan Kepalsuan Riau berjumlah 30 orang.
UstaZd Qowwiyul Awal : Mari Kita Raih Hidayah Allah.

Rutinitas kegiatan ba’da subuh di Balai Diklat Keagamaan Padang dalam kajian subuh terus di syiarkan
Hal ini terbukti agenda subuh di BDK Padang,Kamis,(12/3/2020) dalam kultum yang disampaikann oleh UstaZd Qowwiyul Awal dari negeri Melayu Riau membuat para jamaah subuh terpesona mendengarkannya dengan tema “Raihlah Hidayah Allah”
Hidayah Allah merupakan petunjuk dari Allah untuk hambanya yang ingin mendapatkan hidayah tersebut.
Yang terpenting dalam hidup kita ini adalah memohon kepada Allah dalam surat Alfatihah yang dibaca setiap sholat doa ikdinassirothol Mustaqim kadangkala tanpa kita sadari bahwa kita telah berdoa mohon bimbingan Allah. sambungnya

Kalau kita renungkan ayat ayat dalam alfatihah semua bermuatan pujian hanya satu berisi do’a yaitu ikhdinassirotholmustqqim bimbingan kami ke jalan yang lurus.
Dalam kita mohon dalam hidup ini terbimbing oleh hidayah Allah karena kita tidak mampu memastikan semua ibadah yang kita lakukan diterima Allah maka doa ini selalu kita baca dalam setiap sholat
Hidayah Allah akan dapat diraih yaitu istiqomah melaksanakan sholat selalu duduk dalam majlis majlis zikir dan ilmu. InsyAllah Hidayah Allah selalu kita Raih. Syukron.
Menjadi Atasan Yang Baik dan Menginspirasi
Semua orang bisa menjadi atasan. Tapi tidak semuanya mampu bertindak dan bekerja sebagai atasan yang baik di kantor. Dalam dunia kerja, atasan merupakan panutan bagi bawahan. Namun di balik itu, atasan juga kerap dipandang sebagai βmusuhβ karena tugas-tugas yang diberikan.
Inilah yang perlu diluruskan. Jangan sampai relasi kerja jadi kaku dan tidak harmonis. Dampaknya bisa fatal. Situasi ini bisa membuat perkembangan lembaga jadi stagnan, bahkan merosot.
berikut hal-hal yang patut dilakukan oleh Anda agar bisa menjadi atasan yang baik dan menginspirasi.
1. Jujur
Sebagai atasan, wajib memberikan contoh perbuatan jujur bagi anak buah atau staf. Misalnya ketika salah dalam suatu tindakan, mengakui kesalahan dan minta maaf pada siapa saja wajib dilakukan.
Kalau kesalahan disorongkan ke anak buah terus menerus, mereka pasti akan menjauh. Justru jika memungkinkan, pasang badan ketika ada bawahan yang berbuat salah. Asalkan bukan kesalahan fatal. Harapannya, mereka jadi sadar dan segan kepada kita.
Ini berlaku juga untuk sebaliknya. Ketika bawahan melakukan kesalahan, jujur saja dan tegur langsung. Jangan hanya karena takut konflik, akhirnya kesalahan anak buah dibiarkan terjadi tanpa konsekuensi.
Jika begini, nanti mereka tidak akan belajar dari kesalahan, dan akibatnya kesalahan yang sama bisa terjadi berulang kali.
2. Tegas
Tegas berbeda dengan keras. Atasan harus tegas, antara lain dalam memberi perintah dan keputusan.
Contohnya saat anak buah bertanya apakah bisa menunda pekerjaan karena alasan tertentu. Lihat urgensi pekerjaan itu dan alasan yang diberikan. Bila dirasa pekerjaan harus segera selesai dan alasan tidak mendesak, tolak dengan tegas permintaan itu.
3. Konsisten
Konsistensi sikap juga diperlukan, antara lain saat memberikan tugas. Pikirkan dengan baik tugas yang akan diberikan sebelum mendelegasikannya kepada anak buah.
Si A, misalnya, diminta mengerjakan bagian tertentu. Jangan tiba-tiba di tengah jalan meralatnya jadi hal lain. Bisa dibayangkan betapa kesalnya si A bila sudah mulai mengerjakan tugas tersebut.
Konsistensi juga bisa ditunjukkan dari seberapa teguh seorang atasan menjalankan program atau kebijakan perusahaan. Jangan mudah berganti haluan, karena bawahan pun bisa jadi bingung dan malah tidak hormat kepada Anda.
4. Komunikatif dan terbuka
Komunikasi dalam dunia kerja semestinya dilakukan dua arah. Dialog itu membutuhkan keterbukaan, baik dari atasan maupun bawahan.
Dari sisi atasan, sikap komunikatif dan terbuka akan mendekatkan hubungan Anda dengan bawahan. Bisa dimulai dari yang simpel, seperti menyapa saat bertemu di lift. Atau ikut makan siang bersama mereka, sesekali traktir anak buah akan hubungan kian erat.
5. Jangan terlalu dekat dengan bawahan
Kedekatan bawahan dengan atasan harus dibatasi dalam lingkup profesionalitas. Bila sudah masuk ke hal pribadi, misalnya curhat suami suka pulang malam, berbahaya.
Bisa-bisa hubungan jadi lebih dari sekadar bawahan-atasan. Hindari hubungan pertemanan tapi mesra, karena bisa mempengaruhi performa kerja, terutama buat atasan saat melakukan penilaian terhadap anak buah.
6. Jangan otoriter
Biarlah Kim Jong-un saja yang menjadi pemimpin otoriter. Sikap sewenang-wenang atasan terhadap bawahan sama sekali tidak direkomendasikan. Bagaimanapun, harus ada kerja sama timbal balik antara atasan dan bawahan. Tak peduli sehebat apa pun kita, input atau pendapat dari bawahan perlu didengar.
Kita tetaplah manusia, yang tak luput dari kesalahan dan keterbatasan. Percaya diri boleh saja, tapi tak ada ruginya mempertimbangkan gagasan orang lain ketika akan membuat keputusan.
7. Bagi waktu dengan baik
Jangan samakan beban kerja kita sebagai atasan dengan bawahan. Mungkin kita sebagai orang yang jabatannya lebih tinggi dituntut juga untuk bekerja di akhir pekan atau dinihari.
Bila memang mendesak, Anda minta bantuan anak buah di luar jam kerja. Namun jangan lupa terangkan pentingnya tugas itu, dan berikan reward yang pantas agar mereka merasa dihargai.
( A.Rahman Humas UIN Jambi)
SELAMAT MENJADI ATASAN YANG PROFESIONAL.
Ustazd Qowwiyul Awal Ajak Peserta Tingkatkan Integritas sebagai AS N
Ustaz yang tak asing lagi di bumi Melayu Riau yang kenal Ustaz Qowwiyu Awal ini ajak ASN tingkatkan integritas sebagai pelayanan masyarakat. Hal ini disampaikannya pada pelaksanaan apel pagi peserta Diklat PKP dan revolusi mental, selasa, (10/3/2020) kemaren
Dalam amanat sebagai pembina apel ia menyampaikan bahwa aparatur sipil negara(ASN) merupakan amanah undang- undang, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan stakekhorder, ASN hadir untuk melayani bukan untuk dilayani.”

Sebagai ASN berilah pelayanan terbaik untuk masyarakat bukan untuk dilayani” ucapnya.Integritas dan profesionalitas yang dibaca oleh ASN khususnya kementerian Agama sebagai kode etik perlu dirialisasai dalam belerja, jika kerja kita teringritas maka tentu berdampak positif dalam penilaian masyarakat.Zaman now sekarang gampang sekali orang membangun issu yang tak sedap ketengah tengah masyarakat, jika ini terjadi maka kepercayaan memudar baik pada pribadi ASN BB itu sendiri maupun lembaga di mana kita bekerja.

Kehadiran kita dibalai diklat BDK Padang ini dalam rangka memupuk jati diri sebagai ASN sesuai dengan Tusi kita masing masing terapkan apa yang kita peroleh dari para pengajar kita disini di wilayah kita nanti. Harapnya.
H.Hidayat Tausyiah Ajak Jamaah Merenungi kehidupan dunia.

Bertempat di balai Diklat keagamaan padang H.Hidayat ajak jamaah subuh balai Diklat merenungi kehidupan dunia. Rabu(11/3/2020) tadi pagi
Dalam tausyiah kuktumnya ia menyampaikan bahwa kehidupan dunia hanya sebuah sandagurau yang hakikatnya ke hidupan yang abadi di akhirat kelak.
Kehidupan dunia ini hendaknya kita jadikan sebagai wahana untuk menuju ke hidupan yang indah yang tak terbilang di akhirat.
Mari kita gunakan kehidupan dunia ini penuh dengan kebahagian untuk menuju kehidupan yang sangat bahagia yang tak dapat dibandingkan dalam kehidupan dunia ini.
Ardian Napitupulu Kunjungi Kampus UIN Jambi

Ardian Napitupulu Anggota DPR RI kunjungi Kampus UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Rabu,(11/3/2020) tadi pagi.
Dalam kunjungan ke kampus biru ini selain lepas kangen dengan Wakil Rektor II As’ ad Isma sebagai teman karib beliau ia juga disambut hangkat oleh rektor UIN STS Jambi Prof. Su’aidi di ruang kerjanya.

Dalam pertemuannya dengan rektor dan beberapa orang para pimpinan UIN STS Jambi, rektor sangat mengapresiasi kehadiran beliau dikampus UIN STS Jambi, rektor menyampaikan visi misi beliau dalam membangun kampus UIN diabtaranya membangun kampus menjadi kampus sebagai lokomotif perubahan sosial Islami menuju nasional dan internasional.
” Kita ingin membangun kampus UIN ini menjadi kampus sebagai lokomotif perubahan sosial Islami, perubahan ini semua aspek kehidupan. Ucapnya

Rektor juga mengharap mas Ardian bisa membantu UIN di pusat agar percepatan perubahan UIN segera terwujud.
Rektor yang lagi giat membangun infrastruktur kampus ini mengajak mas Ardian yang didampingi As’ad Isma untuk dapat melihat kondisi area kampus UIN yang dibelakang sana sebagai pengembangan eko wisata kampus untuk kegiatan akademis UIN pada bidang penelitian dan bisnis yang nantinya sebagi sumber incom kompus.
Dalam kunjungannya aktivis 98 ini menyempatkan diri berdiskusi bersama mahasiswa UIN berbicara tentang kebangsaan dan bernegara ia sangat berharap kepada mahasiswa sebagai garda terdepan sebagai pelopor bangsa ini. Turut hadir dalam kunjungannya kekampus UIN para aktivis 98 Jambi diantaranya topan prasetyo, cecep, imam sebawaihi dan tokoh aktivis Jambi lainnya.

Buka app
24
Komentar

Lihat 20 Artikel
Soeharto Tidak diculik PKI
Mengingat Lupa. π€π€π€
PERTANYAAN TENDENSIUS MENGAPA SOEHARTO TIDAK DICULIK PKI, PADA SAAT ITU BELIAU BERPANGKAT JENDERAL JUGA.??π€π€
*Sebelum meneliti siapa Soeharto saat itu, you musti lihat literatur dan kenali dulu siapa-siapa Jenderal yang menjadi korban PKI, literatur yang akurat berdasarkan fakta bisa dilihat di ANRI. Semua yang diculik PKI adalah satu gerbong dengan Nasution dan Yani. Kesemuanya Deputy dan dan Assisten Menpangad plus 1 Brigjen pimpinan Oditur Militer (Mayjen Anm Sutoyo). Rombongan inilah yang sering berhadapan dengan PKI, saat pertemuan satu meja di kabinet ataupun pada pertemuan/rapat kenegaraan lainnya.
Bisa dibayangkan betapa benci dan dendamnya PKI kepada kelompok petinggi militer ini. Bersama Pak Nas dan Yani para Deputy dan Assiten ini secara kompak sering bersitegang dan menentang apa-apa yang diusulkan PKI. Hingga kadang PKI tidak berkutik dibuatnya.
PKI terlihat akrab bersama Bung Karno dalam Nasakom, punya klaim pengikut hingga 10 juta massa, memiliki puluhan Underbow binaan. Dari yang namanya CGMI, SOBSI, PR, BTI, Fadjar Harapan, Pemuda sosialis Indonesia, Lekra, hingga Gerwani, namun saat itu ABRI tidak gentar menghadapi segala manuver-manuver PKI. mereka dengan tegas selalu melawan usulan-usulan PKI yang dinilai membahayakan Pancasila.
Negara saat itu mempunyai lebih dari 10 Menteri yang mendukung PKI, dan juga punya banyak anggota Parlemen karena menduduki peringkat ke-4 di Parlemen sebagai Legislator alias Anggota DPR RI. PKI tinggal berhadapan dengan ABRI agar bisa memuluskan rencananya menguasai Pemerintahan Negara ini bila Bung Karno Wafat. Namun berulang kali usaha-usaha mereka patah, saat berhadapan dengan orang yang mereka sebut dalam fitnahan Dewan Jenderal.
Dewan Jenderal merupakan sebutan untuk sebuah kumpulan khayalan PKI, dengan maksud agar dipropaganda-kan sebagai grup Jenderal penentang Bung Karno. Sebenarnya tidak ada istilah Dewan Jenderal dalam negara kita saat itu. Isu Dewan Jenderal sengaja dihembuskan PKI, namun fakta nyata saat itu menunjukkan bahwa para Jenderal yang dituduh PKI tersebut rupanya semuanya adalah Jenderal yang menentang PKI, mereka Jenderal yang sangat Pancasilais dan mencintai Bangsa serta patuh pada pemerintah yang syah. Sejatinya mereka bukan seperti yang dituduhkan PKI, yaitu diam-diam menentang Soekarno. Agar BK dan rakyat membenci mereka, maka PKI mengkondisikan agar fakta sesungguhnya bisa dibalik menjadi fitnahan untuk Dewan Jenderal, hingga ada alasan menyudutkan Pak Nas, Yani dan rekan. Bahkan membunuh mereka.
Soeharto yang berada di luar gerbong tidak dianggap anggota Dewan Jenderal, Soeharto memang berpangkat Mayjen, namun bertugas menjadi Panglima Kostrad. Beliau berada di tengah pasukan, bukan berada di dalam pemerintahan. Otomatis PKI tidak memandang beliau sebagai sosok militer yang berbahaya.
Sekarang renungkan dan baca baik-baik secara logika yang sehat. Inilah contoh nyata sepak terjang Para Jenderal yang membuat PKI gondok marah ;
Pada awal 60-an,
untuk melawan (baca: membendung) agitasi PKI maka ABRI membentuk Partai Politik bernama Golongan Karya, saat itu PKI dengan menggunakan Bung Karno berhasil memfitnah Masyumi dan Murba sampai-sampai BK membubarkan 2 Partai yang menjadi saingan PKI ini. Terbentuknya Golkar membuat PKI kesal, sebab sangatlah sulit untuk dihancurkan karena pendirinya para Jenderal aktif.
Selanjutnya ketika kampanye Dwikora yang mengeluarkan resolusi perang Ganyang Malaysia, inilah momen bagi PKI membentuk sukwan sukwani alias sukarelawan perang, dengan harapan kelak bisa mereka manfaatkan seperti Tentara Rakyat Komunis di China saat melakukan revolusi. Namun sial bagi PKI, kekuatan dan kecerdasan intelejen MT.Haryono, Suprapto, S.Parman, dan Panjaitan membuat ABRI tidak terlalu mendukung perang itu. Kita saja tahu bahwa Perang Ganyang Malaysia itu akibat provokasi PKI terhadap BK, agar mendapat bantuan senjata dan dana dari RRC, apalagi Jenderal intelejen ABRI saat itu begitu ketat memperhatikan segala gerak gerik PKI. Hingga provokasi dan segala giat PKI mampu terbaca oleh ABRI, dan akhirnya konfrontasi dengan Malaysia tidak terlalu serius dijalani dan didukung oleh ABRI
Pertentangan terhadap PKI bersambung, Nasution dan Yani dan rekan-rekan kembali kompak dan keras menolak usulan angkatan kelima Buruh Tani. Ini adalah sebuah usulan gila karena PKI meminta pada BK agar buruh tani dipersenjatai oleh Negara. Petinggi ABRI sontak menolak, karena ABRI mencium adanya gerakan persiapan pemberontakan dibalik usulan ini jika Negara menyetujuinya. ABRI juga melihat ada gelagat/niat PKI untuk membentuk pasukan bersenjata yang ilegal untuk memperkuat posisi mereka, gerakan ini tercium, dan serta merta ABRI menolak keras, meski usulan itu dibalut alasan untuk perang hadapin Malaysia.
Belum lagi saat Brigjen Panjaitan menyita 50 ribu pucuk senjata mencurigakan selundupan dari RRC di Tanjung Priuk, senjata itu yang merupakan pesanan PKI, betapa hancurnya hati petualang-petualang Aidit, Syam, Nyoto, Sakirman, Lukman, Nyono, Sudisman, Latief. Hingga saking bencinya Sakirman maka dia memasukkan nama adiknya S.Parman agar turut dihabisin juga, karena S.Parman adalah Assisten Jend Yani.
Contoh lain adalah ketika begitu kerasnya statemen Yani prihal pembunuhan Pelda Sujono, anggota TNI di Bandar Betsi, Sumatera Utara oleh segerombolan Komunis, Yani dalam pidatonya memerintahkan kepada semua Prajurit angkatan darat untuk “Asah Sangkurmu” dan bersiap menghadapi Komunis dan segala kemungkinan yang akan terjadi. Artinya Yani memproklamirkan persiapan perang terhadap PKI.
Puncaknya,
PKI yang merasa sudah sangat dekat dengan Bung Karno kaget plus sakit hati, saat BK pun pernah mengatakan bahwa pengganti dia kelak adalah Yani. Aidit dan Syam panik luar biasa, apalagi Tim Dokter RRC mengatakan bahwa umur BK tidaklah lama lagi, antara mati atau lumpuh total. Aidit berkehendak menjadi Presiden. Namun BK berkehendak lain. Di luar dugaan BK berniat menyerahkan Negara Kepada Yani, tidak kepada Aidit.
Artinya kalo Yani jadi Presiden maka kecil harapan PKI untuk menguasai atau berkiprah di negara ini. Sangat susah mereka meloloskan niat untuk mengubah Pancasila dan menjadikan Komunis sebagai ideologi Negara. Dan pasti barisan S.Parman cs sebagai Deputy dan Assisten tadi semakin solid menentang PKI.
Soeharto walaupun seorang Mayor Jenderal saat itu, namun beliau tidak selalu bersama Nasution dan Yani karena lebih banyak bersama Pasukannya di Kostrad. Dia kagak ada urusan untuk berdebat dan menentang secara nyablak seperti Pak Nas dan Yani karena Soeharto bukan memegang jabatan yang mengharuskan dia untuk selalu mendampingi Pak Nas atau Yani. Soeharto tidak termasuk barisan ABRI yang bisa menganulir tiap usulan sesat PKI di pemerintahan
Begitupun Brigjen Oemar Wirahadikusuma dan Kol Sarwo Edhie dan juga para Pangdam teritorial lainnya. Semua rata-rata berpangkat bintang Jenderal. Belum lagi ditambah dengan para Kepala Staf 3 Angkatan lain, kecuali Oemar Dhani yang memang terlibat PKI. Semua mereka adalah Laksamana, Komodor dan Jenderal juga. Namun mereka semua bukan Deputy dan Assisten dan Nasution dan Yani.
PKI bergerak Goblok, dengan menganggap bahwa kalo barisan Nasution dan Yani mereka hancurkan lantas, semua pasukan ABRI akan mampu mereka kuasai. Karena gerakan mereka tidak diridhoi Allah SWT, maka rencana gagal total. Rakyatpun tidak mendukung gerakan kudeta ini.
Mereka teramat tolol menganggap kalo kepala udah ditundukkan maka badan dan ekor akan takluk. PKI lupa bahwa ketika menghantam kepala kalajengking maka seketika buntut ekornya balas ganas menyerang dengan sengatan beracun membunuh.
Ketika Pasukan gabungan dikerahkan Soeharto merangsek masuk ke wilayah Lubang Buaya, para dedengkot PKI panik. “Kita sudah kalah” ujar Brigjen Suparjo pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965.
” Jawa tengah akan berbicara teman-teman” balas Sjam Komaruzaman.
Sedang Letkol Untung sepanjang hari hanya diam termenung dan sorenya kabur ke Tegal.
Perhitungan PKI sangat buruk. Semakin parah kelakuan mereka dengan alih-alih percaya diri menangkap Jenderal tertinggi ABRI, di rumah Nasution Tjakrabirawa hanya mampu menembak Balita kecil (Ade Irma gugur 6 Oktober 1965 setelah dirawat intensif), Prajurit Tjakra Kopral Hagiono memuntahkan 5 peluru menembus Balita Kecil itu, di halaman depan, pasukan menembak mati Polisi muda Satsuit Tubun, dia yang hanya piket pengawal di rumah Waperdam J Leimena, kebetulan bersebelahan dengan rumah Pak Nas. Berlanjut Saking gobloknya mereka tidak mampu membedakan mana Panglima ABRI dan mana Ajudannya. Pierre Tendean-pun mereka bawa dan aniaya hingga gugur di Lubang Buaya.
Setelah lolos dari maut, selanjutnya Nasution bergabung dengan Soeharto untuk menyusun strategi melawan PKI. Andai Soeharto terlibat PKI maka tidaklah mungkin Pak Nas mau bergabung ke beliau dan bermarkas di Kostrad, serta bahu membahu menghantam PKI.
Dan jika memang Soeharto mendukung atau terlibat dengan PKI lantas apa ada saksi hidup saat itu yang melihat Soeharto bersama PKI, paling tidak apakah ada photo/dokumen yang menunjukkan dia bersama dan berkumpul bersama Aidit atau dengan pimpinan PKI lain? Dari sini saja bisa pelajari lagi. Jika memang Soeharto tidak dibunuh karena terlibat PKI, maka tidak masuk akal kenapa sepanjang perjalanan gemilang PKI sejak 1948 hingga 1965 tidak ada satu photo-pun atau dokumen tentang kebersamaan petinggi-petinggi PKI bersama Soeharto. Hanya fakta yang bisa memastikan fitnahan terhadap Soeharto ini benar atau tidak. Dan tidak ada fakta yang bisa menunjukkan keterlibatan Soeharto meski hanya selembar photo atau secarik dokumen.
Terus, dalam persidangan Subandrio dan Oemar Dhani serta yang lainnya, apa ada kesaksian mereka yang jelas menyebut Soeharto bagian dari mereka. Karena untuk mengakui hal itu sangatlah dimungkinkan mengingat para terdakwa semuanya tipis harapan untuk lolos dari hukuman mati. Lah bagi mereka eksekusi mati udah pasti, lantas mau ngapain lagi kalo ngga mau jujur.
Nyatanya tidak ada kesaksian dari mereka tentang keterlibatan Soeharto.
Kesimpulannya:
Artinya posisi Soeharto dianggap tidak penting, begitupun Pangdam DKI Umar dan Kasal RE Martadinata meski semua mereka adalah Jendral dan Laksamana setingkat Jenderal. Dan PKI bertindak langsung mengumumkan bahwa kekuasaan ABRI sementara diambil alih oleh Letkol Untung. Hal inj disampaikan pada pagi hari 1 Oktober 65 di RRI. PKI memperhitungkan bahwa semua Jenderal lain akan mematuhi pengumuman itu. Tapi perhitungan mereka salah besar.
Justru Soeharto dan rekan-rekan yang menghancurkan mereka.
Jadi tuduhan yang berkembang bahwa Soeharto tidak diculik karena terlibat PKI adalah omong kosong belaka, tuduhan memutar balik fakta khas komunis, ditambah lagi keturunan dan simpatisan PKI dendam terhadap sikap heroik Soeharto dalam membumi hanguskan semua unsur-unsur yang mengandung Komunis, Marxis dan Leninsme.
Asumsi sederhananya begini ;
Kasus Soeharto tidak bisa disamakan pada kejadian pada Marsekal Oemar Dhani dan Brigjen Suparjo. Kedua Jenderal ini terlibat G30S/PKI, jadi memang tidak mungkin diculik dan dibunuh. sangat berbeda dengan Mayjen Soeharto dan Brigjen Umar Wirahadikusuma dan Laksamana RE.Martadinata yang tidak terlibat PKI, mereka tidak dibunuh karena dianggap remeh PKI, dalam teori mereka cukup hanya bunuh semua pimpinan mereka di Mabes ABRI dan otomatis yang lain langsung tabik tunduk.
Antara Soeharto dan mereka memang sama-sama berpangkat Jenderal dan sama-sama tidak diculik, namun yang membedakan mereka adalah status ideologi yang dianut. Dan Soeharto tidak berhaluan Komunis. Soeharto Pancasilais dan militer sejati, tidak ke kanan dan ke kiri.
Setelah kekalahan telak PKI. Hanya simpatisan dan keturunan PKI yang selalu melontarkan asumsi negatif mengapa Soeharto tidak diculik, mereka juga menghembuskan isu bahwa Soeharto menjadi bagian dari pelaku G30S/PKI. Menekan Negara agar minta maaf pada PKI sekaligus Mendogma anak negeri agar menerima faham ini dengan mengubah fakta pada buku pelajaran sejarah sekolah, dengan menghapus sejarah kelam G30S/PKI.
Jika memang Soeharto berhaluan Komunis dan juga terlibat G30S/PKI, maka mengapa sepanjang 32 tahun berkuasa, secara luar biasa Pancasila sangat dijunjung tinggi. E0ntah berapa kali kami dulu diharuskan ikut Penataran P4. Pelajaran PMP masuk dalam kurikulum wajib di Ebtanas, mata kuliah Kewiraan di Universitas juga musti lulus. Belum lagi Resimen Mahasiswa dan ABRI masuk Desa digalakkan demi keamanan Negeri dari bahaya Laten komunis. jika ikutan test Tentara,Polisi atau PNS, dipastikan harus lulus test Mental Ideologi dan sedikitpun tidak mentolerir jika peserta terindikasi laten walaupun keluarga jauh yang pernah terlibat, meski hanya simpatisan PKI.
Jika merujuk dari cerita bahwa Soeharto tahu akan ada penculikan, saya fikir Jenderal lain juga sudah tahu, Jenderal Yani pun sudah tahu namun dia dan Pak Nas menolak agar pengamanan di rumah mereka ditambah. Dan juga sangat tidak logis jikalau hanya gara-gara mengetahui lantas langsung dituduh terlibat, mengingat kondisi Soeharto pada hari-hari kelam tersebut disibukkan oleh kejadian putranya yang masuk RS akibat tersiram air panas kuah Sup. Secara militer-pun Soeharto pasti tidak terlalu khawatir sebab dia tahu bahwa PKI tidak memiliki pasukan bersenjata. Dia baru mengetahui bahwa PKI memdoktrin Pasukan Tjakrabirawa menculik rekan-rekannya dari Pernyataan Letkol M Untung di RRI. Awalnya Soeharto berfikir ngga mungkin PKI dan antek-anteknya mampu menculik Para Jenderal.
Intinya,
yang menuduh Soeharto tidak diculik subuh itu adalah simpatisan PKI. Sebagai Bangsa yang besar seyognyanya melindungi nama baik Pahlawan. Sebaiknya Bangsa Indonesia menghargai jasa Soeharto yang menyelamatkan Indonesia dari Komunis. Andai PKI berhasil maka Negara ini dipastikan mirip dengan Korea Utara. Semoga negeri ini cerdas dalam melawan sebuah propaganda fitnah.
Bismillah..
#TetapWaspadaKomunis
Kisah Ibu yang marah:Doa yang dikabul Allah 25 tahun kemudian

Aku sdg membersihkan rumah. Tiba2 anak lelakiku yg msh kecil berlari ke arahku. Dia tersenggol satu pot bunga yg terbuat dari kaca. Pecah hancur berantakan.
Aku benar2 marah krn pot itu mmg mahal harganya. Tanpa ku sadari, aku telah melontarkan kata2,
“Matilah kamu! Semoga kamu ditimpa dinding bangunan dan tulang-belulangmu hancur!β
Tahun demi tahun berlalu. Anak lelakiku membesar, aku sdh lupa akan doa itu. Aku pun tak anggapnya penting dan aku tak tahu bhw doa itu telah naik ke langit.
Anak lelakiku dan adik2nya yg lain tumbuh besar. Dia anak sulung yg paling aku sayangi dari anak2ku yg lain. Dia anak yg rajin dan pandai menghormati aku dan berbakti kepadaku dibandingkan adik2nya yg lain.
Kini dia telah menjadi seorg insinyur. Tak lama lagi dia akan menikah. Tak sabar rasanya aku ingin menimang cucu.
Ayahnya punya sebuah bangunan yg sdh lama dan ingin direnovasi. Maka pergilah anakku bersama ayahnya ke gudang itu. Para pekerja sdh bersiap2 utk merobohkan satu dinding yg sdh usang.
Sementara pekerja sdg bekerja, anakku pergi ke belakang bangunan tanpa diketahui oleh siapa pun. Dgn tak disangka2 dinding bangunan itu roboh menimpanya!
Terdengar suara berteriak dalam runtuhan itu hingga suaranya tak kedengaran lagi.
Semua pekerja berhenti. Heran suara siapa? Mereka berlari ke arah reruntuhan itu. Mereka mengangkat dinding yg menghimpit anakku dgn susah payah dan segera memanggil Ambulan.
Mereka tdk dpt mengangkat badan anakku. Ia remuk seperti kaca yg jatuh pecah berkeping2.
Sebagian mereka mengangkat badan anakku yg hancur dgn hati2 dan segera membawanya ke UGD di RS.
Ketika ayahnya menghubungiku, seakan2 Allah menghadirkan kembali kata2ku padanya semasa ia msh kecil dulu.
Aku menangis hingga pingsan, setelah aku sadar, aku berada di RS dan aku meminta utk melihat anakku. Ketika melihatnya, aku seakan mendengar suara yg berkata,
“INI DOAMU KAN? Sudah AKU kabulkan! Setelah sekian lama engkau berdoa, skrg Aku akan mengambilnya!”
Ketika itu, jantungku seakan berhenti berdetak. Anakku menghembuskan nafasnya yg terakhir. Aku berteriak dan menangis sambil berkata,
“Ya Allah! Selamatkanlah anakku! Jgn pergi nak..”
Seandainya, lidah ini tdk mendoakan kejelekan 25 tahun yg lalu…!
Andaikan..! Andaikan..! Andaikan..! Tetapi kalimat βandaikanβ ini tak berguna lagi skrg ini..
Cerita ini dari satu kisah nyata! Pesanku pd para IBU. Jgn sekali2 terburu2 mendoakan KEBURUKAN anakmu ketika kamu sdg marah…!!!
Berlindunglah kepada Allah dari godaan iblis. Jika kamu ingin memukulnya, pukul sajalah, tapi jgn kamu mendoakannya dgn yg bukan2 sehingga kamu akan menyesal sepertiku…!!!!
Sungguh aku menulis ini dgn airmataku yg turut mengalir.
Wahai anakku..! Aku rela rohku turut bersamamu..! Hingga aku boleh beristirahat dari kepedihan yg aku rasakan setelah kepergianmu…
Tolong sebarkan cerita ini kpd semua wanita..! Doakanlah yg baik2 saja utk anak2! Doa itu pasti akan terjawab walaupun utk sekian lama. Tunggulah dan Allah pasti mengabulkannya.
(Disadur dari tulisan
seorang ibu di Malaysia)
π
#JagaEmosi
Bicara lah yg baik 2 dan perbanyak lah istighfar wahai para ibu 2 jagalah mulud mu
Saya doakan semua yang membaca dan mengaminkan doa ini sukses dunia akherat aamiin π
5 Alam yang disadari Manusia
Subuh barakah, Selasa 10 Februari 2020 kegiatan kultum di Balai Diklat Keagamaan Jalan Batang Kapur Padang di isi oleh Ustaz Khosfi dari peserta Pelatihan Kemimpinan Pengawas(PKP) Angkatan I tahun 2020 dalam tausiyahnya menyampaikan manusia harus menyadari bahwa ia hidup pada 5 Alam.Pertama Alam ruh, kedua alam rahim, ketiga alam dunia, keempat alam kubur dan kelima alam Akhirat,Kelima alam ini merupakan karunia Allah yg telah dan akan kita rasakan, kebahagiaan kita dalam menghadapi tiga alam setelah alam ruh dan rahim itu tergantung bagaimana kita menjadi manusia yang sesungguhnya yaitu manusia lahir untuk rahmatanlil’alamin,Jika manusia mengalami sebaliknya itu akan pertanda manusia itu mengalami kesengsaraan baik di dunia maupun pada dua alam yakni alam kubur dan akhirat.Sadarilah kehidupan dunia hanya sementara walaupun umur yang diberi Allah sekalipun sampai 100 tahun lamanya ia hidup di dunia. Kehidupan akhirat nanti lebih kekal selamanya. Ucapnya




